Sekilas Tentang Prof. Marcellus Simadibrata

Motivasi dokter lulusan Fakul­tas Kedokteran Universitas Indonesia ini dalam menekuni bidang gastroenterologi terbilang unik. Motivasinya berawal dari pe­nugasan yang diberikan Depar­temen Kesehatan di daerah Beli­tung pada era delapan puluhan, saat Marcel (nama pang­gilan dr. Marcellus Simadibrata) muda, baru diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Empat tahun bertugas di pulau terpencil membuat dokter muda ini semakin menyelami kondisi kesehatan masyara­kat yang sebenarnya. Kondisi sanita­si di tempat yang cukup sulit dijangkau tersebut ternyata sangat memprihatinkan sehingga penyakit diare menjadi gangguan yang mendominasi masyarakat setempat. Pengalaman menangani diare di da­erah terpencil tersebut mendorong Dr.  Marcellus Simadibrata, SpPD-KGEH, PhD. FACG. FINASIM mendalami seluk beluk diare dengan mengikuti pendidikan doktoral di Universitas Amsterdam, 2002. Kepada MEDIKA, dokter yang juga men­jabat sebagai President of the Indo­ne­sian Society of Digestive Endoscopy (ISDE) memaparkan pandangannya mengenai diar­e, salah satu gangguan dalam bidang gastroenterologi yang ditekuninya

Penyakit diare masih merupakan gangguan utama di Indonesia, di mana sebagian besar kondisi sanitasi lingkungannya masih memprihatinkan. Kenyataan ini juga menjadi salah satu bahan perbincangan dalam Asian Pacific Digestive Week (APDW) di Kuala Lumpur, September 2010.  Pada APDW, khususnya mengenai pena­ngan­an diare, upaya yang dilakukan sudah sampai tahap pencegahan. “Itu kelebihan mereka, karena taraf hidup mereka lebih baik daripada kita sehingga sanitasi mereka lebih baik,” ungkap Dr. Marcel.

Masih tentang kongres APDW, Dr. Marcel menyatakan bahwa pencegahan dan tera­pi diare yang direkomendasikan dalam kongres tersebut adalah penggunaan pro­bio­tik. Di Indonesia, probiotik juga sudah digunakan sebagai terapi dan pen­cegahan diare. “Probiotik sekarang lebih dipercaya. Selain mencegah, juga bisa mengobati diar­e, walaupun terapi utama tetap terapi rehidrasi cairan elektrolit.”

Probiotik termasuk Lactobacillus reuteri dari hasil penelitian di dunia dan di RSCM Jakarta, dapat mencegah diare dan keluhan-keluhan saluran cerna atas dan bawah yang disebabkan oleh Antibiotik disebut Antibiotic Associated Diarrhea (AAD) demikian terang Dr. Marcel. Peran probiotik termasuk Lactobacillus reuteri ma­sih sebagai suplemen (tambahan) peng­ob­­atan utama diare akut dan diare karena anti­bioti­k. Seperti diketahui bahwa peng­obat­an utama diare akut yaitu rehidrasi dan pengobatan kausal, misalnya bila infek­si di­beri­kan antibiotik atau antiinfeksi dll. Pada diare karena antibiotik, peng­obata­n utamanya yaitu rehidrasi, stop anti­biotik, dan memberikan antibiotik metro­nida­zole atau vancomycine untuk me­ng­eradikasi kuman Clostridium difficile. Pada diare akut, probiotik danLactobacillus reuteri berperan mempercepat berhentinya diare dibandingkan plasebo. Pada diare karena antibio­tik, Lacto­bacillus reuteriberperan mem­per­ce­pat ber­hentinya diare dan me­ngu­rangi ke­luhan-keluhan saluran cerna atas dan bawah.

Pada kongres APDW, Dr. Marcel juga membawakan penelitiannya di Universitas Indonesia. Penelitian yang menggunakan L. reuteri ini mendapatkan data bahwa pem­berian L. reuteri suplemen bisa mengu­rangi diare ka­rena antibiotik. Hal ini dibuk­ti­k­­an dengan berkurangnya keluhan-keluhan yang terjadi dibandingkan tanpa pemberian L. reuteri. “Memang penelitian kita sampelnya kecil, tetapi penelitian di lua­r negeri dengan sampel yang lebih banyak hasilnya cukup bagus dan terbukti dapat mencegah AAD,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai mekanisme L. reuteri dalam memperbaiki kondisi diare, dokter yang lulus FKUI tahun 1981 ini menjela­skan bahwa mekanisme L. reuteri dalam memperbaiki diare berbeda dengan probiotik lain. Selain meningkatkan imu­nita­s lokal dengan meningkatkan imuno­globulin A, L. reuteri juga meningkatkan imunitas sistemik dengan meningkatkan CD4. L. reuteri juga menghasilkan reuterin yang dapat membunuh atau menghambat bakteri-bakteri patogen dan mengurangi adhesi bakteri patogen ke mukosa usus. “Bila L. reuteri sudah meme­nuhi lumen dan menempel di mukosa maka bakteri patogen tidak bisa menempel,” terang Dr. Marcel se­cara rinci. Selain itu, L. reuteri dapat mem­perbaiki fungsi mukosa usus halus antar­­a lain memperbaiki sekresi enzim di­saka­ridase seperti lactase, maltase dan sucrose untuk membantu proses pencernaa­n.

Selain memperbaiki kondisi diare, L. reuteri juga berperan dalam memper­baiki keluhan konstipasi. L. reuteri memperbaiki kondisi konstipasi dengan cara mempercepat pergerakan motilitas usus sehingga transit time lebih pendek. Penelitian mengen­ai manfaat L. reuteri untu­k kondisi konstipasi sedang dilakukan di dunia. Kita merencanakan di waktu yang akan datang untuk melakukan uji klinis di Indonesia, dengan maksud membukti­kan bahwa L. reuteri dapat memperbaiki konstipasi.” Ungkap Dr. Marcel.

“Dalam praktik sehari-hari, L. reuteri su­dah banyak digunakan,” ungkap Dr. Marcel. Penggunaan terbanyak adalah untu­k AAD. Umumnya, AAD terjadi lebih banyak melalui mekanisme peningkatan infek­si kuman clostridium difficile. Dengan diberikan L. reuteri maka kejadian-kejadian infeksiClostridium difficile menurun sehing­ga diare karena antibiotik juga ber­kur­an­g. Tidak hanya untuk AAD, pene­litian terbaru membuktikan bahwa strainL. reuteri terbaru dapat digunakan untuk memperbaiki infeksi H. pylori di lambung. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Italia ini sedang berjalan.  (hidayati)

sumber: http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2010/edisi-no-11-vol-xxxvi-2010/256-profil/452-dr-marcellus-simadibrata-sppd-kgeh-phd-facg-finasim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *